Lasmi Dan Mertua

Lasmi Dan Mertuaby superadminon.Lasmi Dan MertuaLasmi adalah bekas istri sepupuku yang bercerai karena setelah setahun menikah keduanya sudah tidak saling cocok lagi. Maklum, mereka menikah masih sangat muda, Lasmi 20 tahun sedang sepupuku 22 tahun. Ditambah lagi kedua orang tua sepupuku kurang menyukai Lasmi karena sekalipun cantik tapi Lasmi dianggapnya bukan berasal dari keluarga ningrat. Setelah bercerai Lasmi semula bekerja […]

cerita dewasa

Lasmi adalah bekas istri
sepupuku yang bercerai
karena setelah setahun
menikah keduanya sudah tidak
saling cocok lagi. Maklum,
mereka menikah masih sangat
muda, Lasmi 20 tahun sedang
sepupuku 22 tahun. Ditambah
lagi kedua orang tua sepupuku
kurang menyukai Lasmi karena
sekalipun cantik tapi Lasmi
dianggapnya bukan berasal
dari keluarga ningrat. Setelah
bercerai Lasmi semula bekerja
di Panti Pijit tapi hanya
sebentar sebelum dia
mendapat pekerjaan sebagai
staf administrasi di sebuah
kantor Swasta. Karena dia
memang cantik maka cepat
saja dia dapat menarik hati
seorang pemuda yang cukup
kaya. Mas Indra nama pemuda
itu, anak dari Direktur
perusahaan itu yang tergila-
gila pada Lasmi. Akan tetapi
yang pertama kali tertarik
pada Lasmi justru Pak Suryo,
ayah Mas Indra. Laki-laki yang
pernah menjadi langganan pijit
Lasmi ini rupanya ada hati
pada janda cantik ini dan
dialah yang membujuk Lasmi
untuk bekerja sebagai staf di
kantornya. Lasmi sendiri tidak
mengira bahwa Mas Indra
nekat melamarnya sebagai istri
tapi meskipun kurang sreg
diterima juga lamaran itu
karena Mas Indra orangnya
cukup ramah sehingga Lasmi
juga cukup senang. Apalagi
berikutnya dia juga sangat
dimanja sekali oleh kedua
mertua barunya di mana dia
diajak tinggal serumah. Tapi,
justru karena kelewat akrab
dan manja teristimewa dengan
Pak Suryo mertua lakinya
maka terjadilah kontak
terlarang di antara keduanya.
Pak Suryo adalah seorang
pengusaha yang cukup kaya.
Perusahaannya ada dua dan
untuk mengawasinya dia
berkantor di sebuah rumah
yang disewa tepat di sebelah
kiri rumah tinggalnya sendiri,
sedang di sebelah kanannya
lagi adalah rumah yang
diperuntukkan bagi pasangan
Mas Indra dan Lasmi.
Sementara itu Bu Suryo
mengusahakan sebuah Mini
market yang juga tidak jauh
dari situ.Melihat dari kesibukan
tugas masing-masing keluarga
maka Lasmi memang lebih
banyak waktu berdua dengan
Pak Suryo. Karena selain masih
tetap meneruskan bekerja di
kantor Pak Suryo, Lasmi juga
boleh dibilang tinggal serumah
dengan Boss yang sudah jadi
mertuanya ini. Masing-masing
rumah mereka hanya dibatasi
oleh dinding dan ada pintu
penghubung yang selalu
terbuka diantaranya. Nah,
selain kesempatan selalu
bertemu yang leluasa, juga
sikap manja-manja genit Lasmi
kepada mertua lakinya yang
kalau sedang bercanda berdua
sudah meningkat bebas terlupa
batas sampai saling berpeluk-
pelukan, tentu saja memancing
nafsu birahi terpendam sang
mertua kepada menantunya ini.
Maklum kebiasaan genit
terpengaruh lingkungan Panti
Pijit masih melekat pada Lasmi,
teristimewa kepada laki-laki
setengah umur seusia Pak
Suryo.Kumpulan Memek Mulus dan Lembut Cw Jepang
Gairah kelelakian Pak Suryo
yang terpendam kepada Lasmi
memang menuntut karena sang
menantu makin dipandang
makin menggiurkan saja.
Ditahan makin lama makin
meluap dan ketika dicoba
mengutarakannya dengan
memancing-mancing sambil
mengobral banyak pemberian
nampaknya tidak ada
penolakan dari Lasmi, dengan
sendirinya kelanjutan ke arah
hubungan terlarang ini menjadi
semakin mulus.
Tidak bisa disalahkan, Lasmi
yang latar belakangnya binal
kalau sudah terlalu dekat
apalagi sudah terlalu banyak
dibanjiri hadiah sang mertua,
maka kesadarannya pun cepat
saja jadi buntu ketika itu.
Jelas, karena sebenarnya
bukan baru dimulai saat itu
saja tapi dari awalnya Lasmi
memang sudah diincar oleh Pak
Suryo dan Lasmi sendiri juga
sudah menaruh perasaan
tertarik kepada bossnya yang
simpatik ini. Cuma saja karena
keburu diserobot duluan oleh
Mas Indra yang lebih ngotot
maka perasaan hati keduanya
sempat tersendat dan
sekarang mulai terungkit
kembali. Menggelegak semakin
hari semakin matang sampai
kemudian di suatu sore yang
merupakan penentuan ketika
Pak Suryo mencoba sedikit
nekat untuk menangkap
menantu cantik ini dalam
pelukannya tapi kali ini disertai
dengan menyosor bibir Lasmi.
“Hffmm.. hghh..” Lasmi
mengejang tersumbat mulutnya
oleh lumatan nafsu Pak Suryo
tapi begitupun dia tidak
berontak. Ada beberapa saat
dia ikut terhanyut dalam
asyiknya berciuman bergelut
lidah dan ketika cukup untuk
saling melepas, terlihat air
mukanya merah merona.
“Bapak nekatt..” komentarnya
malu-malu geli.
“Abisnya kamu ngegemesin
Bapak sih..”
Itu awal pertama percobaan
Pak Suryo. Tentu saja melihat
ada lampu hijau seperti ini jelas
membuatnya lebih berani lagi.
Dia sudah mulai mencari simpati
dengan cerita tentang Bu
Suryo yang mulai kurang
memberinya kebutuhan
penyaluran seks. Dan ternyata
meskipun tidak terucapkan tapi
dari mimik wajah Lasmi
tertangkap oleh Pak Suryo
bahwa sang menantu ini mulai
terpengaruh prihatin
kepadanya. Terbukti ketika
pada kesempatan hari
berikutnya dia mengulang lagi
memeluk dan mengajak
berciuman tapi kali ini sambil
sebelah tangannya
menggerayangi bagian-bagian
kewanitaan Lasmi, mulai dari
kedua susunya sampai
kemudian menyusup ke
selangkangan, meremas gemas
bukit vaginanya, lagi-lagi tidak
ada penolakan dari sang
menantu cantik ini. Seperti
yang pertama Lasmi juga
membiarkan sebentar dan ikut
terhanyut oleh ajakan
berciuman yang hangat
bernafsu ini, hanya saja ketika
terasa akan terlupa daratan
segera dia minta melepas
ciuman.
“Pak jangan sekarang.. Lasmi
takut kalo ketauan..” bisiknya
cemas karena sudah terasa
jari nakal Pak Suryo menyusup
mengorek-ngorek di celah
kemaluan di bagian klitorisnya.
Mendapat peringatan ini Pak
Suryo pun seperti tersadar
dan melepaskan Lasmi.
“Heehh.. nanti kalau ada
kesempatan Bapak ke
kamarmu, ya?” katanya masih
sempat memesan.
Lasmi hanya mengiyakan dan
segera berlalu dari situ
meninggalkan Pak Suryo yang
meskipun masih nampak
penasaran tapi dalam hatinya
lega karena yakin bahwa pada
kesempatan berikut tentu dia
pasti dapat meniduri menantu
cantik ini.
Suatu hari Mas Indra akan
dinas keluar kota, pagi-pagi
buta itu Lasmi sudah kembali
naik tidur setelah mengantar
Mas Indra cuma sampai di pintu
kamar untuk berangkat ke
airport. Membanting tubuhnya
lemas karena Mas Indra masih
sempat mengajaknya bermain
cinta sesaat sebelum
berangkat.Ketika setengah
layap-layap itulah dia dihampiri
Pak Suryo yang masuk ke
kamarnya tanpa
sepengetahuannya. Begitu
datang Pak Suryo yang
rupanya sudah lama menunggu
kesempatan baik ini langsung
ikut naik berbaring dan mulai
menggerayangi tubuh Lasmi
yang masih bertelanjang bulat
dan hanya menutupi tubuh
atasnya dengan sehelai kain.
Lasmi sempat mengira bahwa
itu Mas Indra lagi tapi segera
tersadar karena perbedaan
yang nyata di antara kedua
lelaki itu. Mas Indra agak kecil
sedang Pak Suryo yang
pendek itu besar gempal
tubuhnya. Lasmi jadi kaget.
“Ehh Bapakk?! kaget aku Paak..
kirain siapa.”
“Ah masak sama Bapak nggak
kenal, kan Bapak sudah pernah
bilang mau nyusul ke sini kalo
ada kesempatan.”
“Abis nggak kedengaran
masuknya, tapi Ibu mana Pak?”
kata Lasmi yang karena
merasa tidak bisa menghindar
lagi, dia bergerak bangun
maksudnya akan mencuci dulu
bekas-bekas dengan Mas Indra.
“Ibu masih pules, nggak bakalan
tau kalau Bapak ke sini..” tukas
Pak Suryo yang rupanya sudah
tidak sabaran lagi langsung
menahan Lasmi bangun.
Tanpa memberi kesempatan
bicara bagi Lasmi, dia sudah
menyerbu perempuan itu
dengan bernafsu. Mencium
langsung melumat bibirnya
sambil dibarengi remasan-
remasan gemas di mana pun
bagian tubuh sang menantu
yang cantik menggiurkan ini
terpegang tangannya. Lasmi
gelagapan sesaat, tapi lagi-lagi
dia mengalah mencoba
mengerti emosi nafsu laki-laki
setengah umur yang menurut
pengakuan kepadanya sudah
jarang diberi penyaluran seks
oleh istrinya. Pasrah saja dia
membiarkan Pak Suryo dan
malah ikut mengimbangi
lumatan laki-laki itu sama
bernafsunya meskipun
kelanjutannya agak membuat
risih juga karena serbuan-
serbuan Pak Suryo benar-
benar kelewat rakus. Dari
saling bertemu bibir ciuman Pak
Suryo menurun melanda kedua
susunya, di sini hanya berhenti
beberapa saat untuk mengisap
kedua puncak bukit kembar itu
dan sebentar menjilati
putingnya lalu kemudian
diteruskan lebih ke bawah
melewati perut Lasmi yang
sudah menggembung empat
bulan itu sampai kemudian
mendarat di vaginanya.
Ini yang agak terasa kurang
sreg bagi Lasmi karena Pak
Suryo seperti pura-pura lupa
bahwa lubang itu masih belum
sempat dicucinya, tapi dia enak
saja mengerjai bagian itu
dengan jilatan-jilatannya
bahkan juga disedot-sedotnya.
Mau dia mencegah tapi Pak
Suryo masih lebih ngotot di
situ malah semakin coba
ditolak, semakin keras juga
Pak Suryo bertahan. Terpaksa
Lasmi diam saja sampai
akhirnya dia sendiri terbawa
tidak perduli karena vaginanya
yang dikerjai mulut lelaki
memang merangsang nafsunya
dengan cepat.
“Aasshhg.. hngghh.. sshhg..”
kontan melintir, bergeliat-geliat
dia oleh kilikan jilatan di
klitorisnya yang begitu
menggelitik geli-geli enak dan
sodokan-sodokan ujung lidah di
lubangnya yang begitu
membuatnya penasaran,
sementara Pak Suryo tambah
bersemangat memainkan
kepintaran mulutnya. Menyosor
seolah-olah ingin
menyembunyikan wajahnya
tenggelam di lubang menganga
milik menantunya ini. Padahal
Lasmi baru saja terpuaskan
dalam sanggama bersama Mas
Indra, tapi rangsangan sang
mertua ini begitu luar biasa
menaikkan kembali birahi
nafsunya seolah-olah tenaga
untuk bercinta datang berlipat
ganda. Masih beberapa saat
Pak Suryo membakar bara
nafsu Lasmi, baru ketika
dilihatnya sang menantu cantik
ini sudah matang dituntut
birahinya di situlah Pak Suryo
berhenti dan mempersiapkan
batangannya. Sudah cukup
tegang, tinggal membasahi
sedikit dengan ludahnya untuk
kemudian dituntun menempel di
mulut lubang, langsung ditusuk
masuk.
“Hhgghh..” sekali lagi Lasmi
mengejang kali ini oleh sodokan
penis Pak Suryo. Tapi karena
sudah cukup siap dia bisa
langsung menerima batang
yang sebenarnya masih asing
baginya. Malah tuntutannya
kepingin cepat terpenuhi, dia
pun ikut menyambut dengan
memutar pantatnya membuat
batang Pak Suryo terasa
seperti disedot masuk, cepat
saja amblas ke mulut vagina
yang lapar itu. Tapi begitu
tertanam dalam, mulutnya
langsung menganga kaku
menahan pinggang Pak Suryo
agar sodokan jangan berlanjut
dan ini dipenuhi Pak Suryo
karena memang batangnya
sudah tertanam habis.
Menunggu sesaat sampai Lasmi
kelihatan sudah agak
mengendor barulah Pak Suryo
menyambung dengan gerak
memompa keluar masuk
penisnya pelan-pelan.
Lasmi sendiri masih sedikit
tegang wajahnya dalam usaha
menyesuaikan diri dengan
sodokan-sodokan Pak Suryo
tapi cuma sebentar, karena
rasa baru yang diterimanya
cepat saja membuainya, sama
cepat seperti barusan dia
dirangsang mulut Pak Suryo di
vaginanya. Ada yang luar biasa
pada milik mertuanya ini
sehingga Lasmi mengalihkan
pandangannya ke bawah ingin
lebih jelas apa yang menjadi
penyebabnya. Karena bukan
hanya bisa membuat daya
rangsangan yang begitu besar
dengan teknik mulutnya tapi
juga memberi pemenuhan yang
pas untuk tuntutannya. Yaitu
dari dalamnya batang yang
menyumbat lubang vaginanya
terasa ukurannya agak
berlebih dari yang biasa
dialaminya dengan Mas Indra.
Pak Suryo bisa membaca
pikiran Lasmi. Dia merenggang
sedikit dan mencabut
batangnya agak panjang
memberi kesempatan Lasmi
memperhatikannya. Meskipun
tidak terlalu jelas karena
ruangan hanya diterangi lampu
dinding kecil tapi masih bisa
tertangkap mata Lasmi yang
begitu melihat langsung
meringis wajahnya.
“Hhssh Bapaakk.. dalemm
bangett Paak..” spontan keluar
komentar kagumnya
memaksudkan penis Pak Suryo
yang memang lebih panjang
meskipun tidak lebih besar dari
milik Mas Indra. Memang, Lasmi
sudah pernah tidur dengan
beberapa lelaki tapi dia
mengakui juga ukuran penis
sang mertua yang cukup
mantap ini.
“He.ehh.. tapi kan nggak sakit?”
kata Pak Suryo sambil
menurunkan tubuhnya agak
menempel karena khawatir
dengan ukuran panjangnya ini
Lasmi berubah pikiran minta
batal sampai di sini. Padahal
tidak perlu. Lasmi cuma
berkomentar bukan berarti
ngeri. Justru dia merasa
batang itu memberi keasyikan
lebih dengan ukurannya yang
tidak seperti biasa didapat dari
suaminya. Terbukti ketika Pak
Suryo mulai menggesek baru
dua tiga gerakan ternyata
sudah mendapat sambutan
menyenangkan dari si cantik
yang segera jadi bergairah
merangkul leher Pak Suryo
berikut kedua kakinya naik
membelit paha sebagai tanda
bahwa dia menyukai disetubuhi
penis Pak Suryo ini.
Inipun jelas terbaca dari mimik
muka Lasmi, malah tidak
sungkan-sungkan
mengutarakannya ketika
dipancing Pak Suryo yang
karena cukup berpengalaman
jelas bisa membaca gelagat
Lasmi.
“Gimana rasanya.. sakit nggak?”
“Nggak.. enak malah Pak, geli
sampe ke dalem-dalem sini.”
jawabnya sambil mengusap-
usap perut atasnya.
“Apanya yang enak?”
“Ngg.. kontoll Bapak..” jawab
Lasmi genit-genit senang.
Mendengar ini tentu saja Pak
Suryo jadi lega dan leluasa
sudah dia bermain menggoyang
penisnya yang disambut Lasmi
dengan juga mengimbangi
mengocok vaginanya. Masing-
masing tenggelam menikmati
asyiknya senggama dalam
suasana yang cepat sekali
akrab, sama-sama lupa
tentang status hubungan
mereka antara anak menantu
dan mertuanya.
Memang ada perbedaan pada
kedua lelaki lawan mainnya ini.
Bersama Mas Indra seperti
masih ada gengsi-gengsian
yang membatasinya kurang
begitu saling terbuka, tapi
dengan Pak Suryo biarpun
baru kali ini, entah mungkin
karena Lasmi sudah biasa
bermanja-manja dengan
pengalaman lalunya yang
umumnya laki-laki tua berduit
dan bersikap kebapakan, maka
rasanya dia tidak sungkan-
sungkan dan malu lagi
mengutarakan apa yang
dialaminya saat ini, teristimewa
waktu mencapai orgasmenya
yang diikuti juga oleh Pak
Suryo.
“Paak ennakk Paak.. Iyya.. Duhh
Bapaak dalem bangett
masuknya Paakk.. Aaa..
dikorek-korek gitu Lasmi
pengenn kluarrin.. Ayyo Pakk..
adduuh.. Iyya ayyo aahhgh..
sshgh.. hghrf.. ennaak punyamu
Lass.. Bapakk juga kluaarr..
sshmmh..”
Tapi hubungan lama-lama
semakin nekat. Tidak hanya
waktu suasana rumah sepi tapi
sekalipun suaminya sedang ada
di rumah pun Lasmi berani juga
mencuri-curi waktu bercinta
dengan Pak Suryo.Ceritanya
hari itu menjelang maghrib Mas
Indra sudah berdua dengan
Lasmi di dalam kamar ketika
tidak lama kemudian Pak Suryo
pulang dari kerjanya. Seperti
biasa Bu Suryo baru akan
pulang dari mini marketnya
menjelang larut malam. Kedua
pasangan muda itu sudah akan
bermain cinta, masing-masing
sudah saling terangsang dan
baru saja akan mulai tiba-tiba
terdengar pintu kamar diketok.
Spontan Lasmi terburu-buru
berpakaian dan keluar dari
kamar, ternyata Pak Suryo
yang ada di depan situ. Dia
rupanya akan meminta pijit
dari Lasmi tapi ketika diberi
tahu bahwa Mas Indra sedang
ada di kamar, Pak Suryo pun
membatalkan niatnya.
Masuk ke kamar lagi Lasmi
langsung tersenyum geli
kepada Mas Indra.
“Barusan Bapak yang ngetok
pintu. Dia minta tolong dipijitin
tapi begitu kukasih tau Mas
masih ada di kamar, Bapak jadi
batal.”Sharon Lee Ngentot Dua Cowok Di Pinggir Pantai
“Oh ya? Ya udah, ke sana aja
dulu pijetin Bapak, nanti baru
ke sini lagi kan juga masih
sore.”
“Idih Mas gimana sih. Masak
aku musti ke sana duluan, lalu
Mas sendiri gimana dong?”
“Nggak gitu, soalnya barusan
kan Bapak mungkin lagi pegel
minta dipijit, kalo kamu nggak
ngikutin kan nggak enak
jadinya.”
Mendengar ini Lasmi berlagak
pasang muka ragu sebentar
tapi kemudian beranjak juga.
“Mas sih bukannya tadi-tadi
ngasihnya.. Awas lho kalo aku
dateng lagi Mas nggak mau
ngasih, aku marah beneran.”
katanya dengan mimik muka
cemberut tapi sebenarnya
dalam hati girang bukan main.
“Nggak usah kuatir, pasti Mas
kasih kalo kamu abis dari
sana.”
Bukan main, gayanya seperti
berat terpaksa tapi
sebenarnya inilah yang
diharapkan Lasmi. Karena
begitu menyusul Pak Suryo di
kamarnya dia sudah langsung
meloncat dan memeluk dengan
wajah girang. Pak Suryo sendiri
baru selesai membuka bajunya
tinggal celana dalam dan masih
berdiri di samping tempat tidur
ketika itu.
“Lo, lo, lo, kok cepet sekali ke
sininya. Gimana bilangnya sama
Indra?” tanya Pak Suryo
heran.
“Las bilang aja terus terang
barusan Bapak manggil minta
dipijetin jadi Mas Indra ngasih
ijin ke sini.”
“Oh ya? Bukannya Bapak tadi
liat kamu lagi kusut, baru mau
maen apa udah selesai?”
“Tadinya emang mau maen,
tapi baru mau dimasukin udah
keburu Bapak ngetok pintu..”
“Waduh maaf kalo gitu. Lagi
kepengen-kepengennya
langsung disetop begitu kan
penasaran.”
“Malah kebeneran Pak.. kan
terusannya bisa dapet ini yang
lebih mantep lagi.” kata Lasmi
sambil menjulurkan tangannya
meremasi penis Pak Suryo.
“Jadi, lobang yang lagi
penasaran ini sekarang malah
mau dikasih Bapak dulu, ya?”
tanya lagi Pak Suryo dengan
membalas meremasi gundukan
vagina Lasmi.
“Iya, iya Paak.. di situ yang aku
kepengenn sekalli..” baru
diremas sebentar saja, Lasmi
yang memang sedang
terangsang penasaran sudah
langsung gemetaran suaranya,
“Ayoo Pak.. buka juga Bappak
punya..” lanjutnya dengan
terburu-buru melepas bajunya.
Pak Suryo menyusul hanya
tinggal melepas celana
dalamnya tapi Lasmi sudah
lebih dulu selesai. Dan baru
saja penis Pak Suryo bebas
Lasmi sudah berlutut,
menangkap batang itu
langsung mencaplok mengisap-
isapnya dengan rakus. Diserbu
rangsangan begini batang itu
cepat saja mengeras dan Lasmi
seperti tidak ingin membuang-
buang waktu. Dia naik duluan
menelentang dan mengangkang
memasang vaginanya siap
untuk segera dimasuki. Sampai
di bagian ini semua memang
bisa serba cepat tapi pada
giliran batang akan dimasukkan
mau tidak mau tempo harus
diperlambat. Sebab meskipun
sudah terbiasa tapi penis
ukuran lebih besar dari
suaminya ini tetap saja tidak
bisa langsung main tancap
sekaligus. Perlu hati-hati dan
harus ada kerja sama untuk
saling menggesek dan memutar
membuat lebih licin dalam
beberapa waktu, sekalipun
rahang Lasmi sudah gemetaran
kaku menunggu lewatnya masa
itu sebelum mendapatkan
rasanya. Tapi kalau batang
sudah tertancap dalam dan
Lasmi sudah bisa menyesuaikan
ukurannya. Hmm.. jangan bilang
lagi nikmatnya. Langsung
gayanya berubah kontras
sewaktu mulai dipompa oleh
Pak Suryo.
“Hhss.. aduuhh tobatt aku
Paak.. hahgh ooghh.. kontol kok
dalem sekali Pak.. tobat akuu..
ampun Bapaak, gedee sekalli
aduuh.. Pakk..” Nada suara
Lasmi merintih-rintih mengaduh
ampun tobat, ditambah lagi
dengan gayanya yang meliuk-
liuk mata terbalik seperti
orang kesakitan, yang begini
kalau didengar dan dilihat Mas
Indra tentu akan menggiris
karena mengira istrinya sudah
tidak tahan disiksa oleh Pak
Suryo. Apalagi kalau bisa
melihat lebih jelas bagaimana
kewanitaan sang istri yang
sering diusapi sayang itu,
sekarang sampai sudah dipaksa
mekar membulat lantaran
menampung besar keliling
batang dan itu pun masih
harus lagi disodok-sodok kasar
seperti tidak mengenal belas
kasihan. Tentu, kalau belum
mengerti Mas Indra pasti
tambah menggiris melihatnya.
Padahal kebalikan dari ini
justru Lasmi sedang tenggelam
dalam nikmat yang
mengasyikan saat itu.
Pak Suryo sudah hafal benar
gaya Lasmi, makin dipompa
keras makin dirasakan enak
bagi Lasmi, dan gaya ini juga
malah menimbulkan rangsangan
tersendiri bagi Pak Suryo
untuk membawanya tiba
menuju puncak permainan
bersama Lasmi. Terlebih kalau
Lasmi sudah meminta tambahan
rangsangan baru di bagian
susunya, itu tanda dia sudah
akan mendekati orgasmenya.
“Heg.. yaang kerass Pak.. shh
iya gittu.. aduh.. sshgh.. heehh..
ayyo.. ayoo Paak.. aahgh..
sshgh.. Iyya Pakk Laas udah
keluarr.. aduhh.. hghshh..
hrrgh..”
Seiring remasan tangan Pak
Suryo di susunya diperkeras,
Lasmi pun tiba orgasmenya. Di
bagian ini nampaknya lebih
sadis lagi. Sebab buah dada
yang biasanya diperlakukan
Mas Indra dengan gemas-
gemas sayang ini di tangan
Pak Suryo diremasi tidak
tanggung-tanggung lagi. Tidak
ubahnya seperti sedang
menggilas baju di papan cucian,
kedua daging kenyal itu sampai
meleot-leot sesekali mencuat
putingnya dari sela-sela jari
tangan besar Pak Suryo. Malah
waktu mengiringi orgasmenya
Lasmi terlonjak-lonjak dengan
dada membusung, di situ
seolah-olah tubuhnya
terangkat-angkat oleh tarikan
Pak Suryo yang mencengkeram
kedua bukit daging itu.
Pokoknya jika bisa melihat
secara keseluruhan bagaimana
cara Pak Suryo mengasari
istrinya, Mas Indra bisa pingsan
dibuatnya. Tapi justru begini
yang paling disukai Lasmi
karena dia merasa seolah-olah
seluruh kepuasannya dibetot
keluar tanpa tersisa.
Rupanya ‘kesadisan’ Pak Suryo
belum selesai. Sesaat setelah
Lasmi selesai berorgasme maka
giliran Pak Suryo yang
mengambil bagiannya. Tapi
menjelang tiba di saat
ejakulasinya tiba-tiba dia
mencabut batangnya dan
langsung tegak berlutut sambil
menarik kedua lengan Lasmi
membawanya terikut bangun
duduk. Lasmi sempat bingung
tapi ketika Pak Suryo
menjambak rambutnya dan
menarik kepalanya
mendekatkan ke penisnya,
segera dia mengerti maksud
Pak Suryo, apalagi Pak Suryo
juga menjelaskan lewat kata-
katanya. “Ayyo Las, isepin
Bapak sampe keluarr..” Tanpa
ragu-ragu Lasmi langsung
mencaplok dan melocok batang
itu dengan mulutnya. Tentu
tidak bisa semua, hanya
tertampung bagian kepalanya
saja tapi ini sudah cukup bagi
Pak Suryo untuk bisa
menyalurkan kepuasannya. Dan
begitu kepala batang itu
mengembang, sedetik kemudian
dia pun menyemburkan cairan
maninya tumpah di mulut Lasmi.
Agak tersekat Lasmi dengan
semprotan tiba-tiba ini, serasa
ingin mencabut kepalanya tapi
tangan Pak Suryo menekan
kepalanya tidak ingin
melepaskan kuluman mulutnya
sehingga mani yang tumpah itu
pun tertelan semua oleh Lasmi.
Ini baru pertama kali dia
melakukan hal ini sehingga
ketika permainan berakhir dan
Lasmi bisa melepas mulutnya,
langsung meringis aneh
mukanya.
“Kenapa Las, nggak enak ya
rasanya?” tanya Pak Suryo
geli.Foto ML Nikmanya Igo Berjilbab lagi Sange
“Asin rasanya Pak..” jawab
Lasmi terikut geli.
“Maaf ya? Terpaksa Bapak
tumpahin di mulut, soalnya kalo
di lobangmu nanti bisa ketauan
sama Masmu.”
“Nggak pa-pa, sekali-sekali
buat pengalaman baru kok..”
“Kalo sering-sering emang
kenapa?”
“Ya bagaimana Bapak.. Emang
enak sih dikeluarin pake
mulut?” kata Lasmi dengan
bergerak bangun untuk ke
kamar mandi mencuci bekas-
bekas permainan ini.
“Oo.. sama Lasmi sih pasti enak
aja.” jawab Pak Suryo sambil
ikut bangun menyusul Lasmi.
Selepas beristirahat sebentar
Lasmi pun kembali ke kamarnya
menemui suaminya. Tentu saja
dengan bersandiwara seolah-
olah dia tidak ada apa-apa
dengan permainan bersama
Pak Suryo. Begitu datang dia
langsung menubruk Mas Indra
dengan gaya tidak sabaran
menggerayangi penis Mas Indra.
Jelas gaya yang membuat Mas
Indra bangga padahal justru
yang terjadi kebalikannya,
sebab barusan mengalami hal
yang paling asyik kemudian
turun ke yang biasa. Lasmi
dalam senggama berikutnya
bersama Mas Indra hampir-
hampir tidak ada rasanya sama
sekali. Hanya gayanya saja
yang tetap meyakinkan bahwa
dia sudah terpuaskan dengan
Mas Indra, tapi kecuali sempat
terangsang sedikit Lasmi tidak
sampai mengalami orgasme
dengan suaminya. Meskipun
begitu dia tidak penasaran
karena sudah terbayang
sepeninggal Mas Indra besok
pagi ke kantornya, dia akan
minta lagi pada mertuanya
untuk meluapkan kerinduannya.
Begitu, dalam enak
dirasakannya bersetubuh
dengan sang mertua yang
punya batang panjang bisa
mengilik jauh ke dalam
rahimnya, Lasmi praktis jadi
ketagihan untuk mengulang
setiap kali ada kesempatan
bisa mencuri-curi.

Author: 

Related Posts